Portal Berita Tegal
Beranda Otomotif Jangan Asal Jual Sepeda Motor yang Masih Kredit, Bisa Terancam Penjara

Jangan Asal Jual Sepeda Motor yang Masih Kredit, Bisa Terancam Penjara

Detik Tegal, Jakarta – Membeli sepeda motor dengan sistem kredit masih menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Hanya dengan membayar uang muka yang relatif kecil dan mencicil setiap bulan dalam jangka waktu tertentu, calon konsumen sudah bisa memiliki kendaraan idamannya.

Namun, jangan sembarangan melakukan transfer kredit atau menjual sepeda motor yang proses kreditnya masih berjalan. Pasalnya, perbuatan tersebut tidak sah dan bertentangan dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara apabila dilakukan tanpa sepengetahuan perusahaan pembiayaan yang menjamin barang titipan, atau tanpa mengetahui proses peralihan kepemilikan barang tersebut.

Kasus tersebut salah satunya menimpa salah satu debitur FIFGroup cabang Jember, Syaifula Bahri. Konsumen mengalihkan pinjamannya ke sepeda motor Honda Vario miliknya.

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jember pada Senin, 29 Januari 2024, Syaiful Bahri mengaku bersalah atas tindak pidana yang dilakukannya.

Akibat perbuatannya, majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara selama 7 bulan ditambah denda Rp50 juta, sebagaimana tertuang dalam putusan no. 692/Pid. B/2023/PN Jmr.

“Saat kami tanyakan keberadaan alat tersebut, Syaiful Bahri menyatakan bahwa sepeda motor tersebut digunakan oleh istri mudanya. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, kami menemukan alat tersebut telah terjual dan berada di luar wilayah Jember,” ujarnya. Kepala Cabang FIFGroup Jember, Junaidi melalui bagian pemulihan Kepala Cabang Jember, Eko Yomi Wahyudi, dalam keterangan resmi, Senin (02/02/2024).

Atas tindakan tersebut, FIFGROUP Cabang Jember melaporkan Syaiful Bahri ke polisi dan masuk proses pengadilan.

Tindakan Syaiful Bahri melanggar UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Kepercayaan, Pasal 23 Ayat Penerima. Pelayan.

Jika ada pelanggaran, perbuatan tersebut diancam pidana sesuai Pasal 36 UU Jaminan Perwalian dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp50 juta.

Sementara itu, Branch Manager FIFGROUP Jember Junaidi menghimbau kepada seluruh pelanggan untuk segera melapor dan datang ke kantor jika terjadi kesulitan dalam membayar angsuran untuk mencari solusi agar tidak saling merugikan.

“Saya berharap tidak memindahtangankan, menggadaikan, menyewakan atau menjual barang titipan karena perbuatan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana dan ancaman pidana penjara,” kata Junaidi.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan