Portal Berita Tegal
Beranda Edukasi Keresahan di Balik Lahirnya Gerakan Sosial Pendamping Korban Kekerasan Seksual

Keresahan di Balik Lahirnya Gerakan Sosial Pendamping Korban Kekerasan Seksual

Detik Tegal – Fenomena kekerasan seksual di Indonesia merupakan permasalahan serius yang menimpa banyak individu dan masyarakat. Kekerasan seksual mencakup banyak jenis tindakan yang melibatkan pemaksaan atau pelecehan seksual terhadap seseorang tanpa persetujuannya.

Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai konteks, antara lain di rumah, tempat kerja, pendidikan, dan di tempat umum. Berikut beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian terkait fenomena kekerasan seksual di Indonesia:

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kekerasan seksual adalah banyaknya kasus yang tidak dilaporkan. Hal ini bisa disebabkan oleh stigmatisasi, ketakutan, kurangnya dukungan sosial, atau bahkan karena pelaku mempunyai kekuasaan atau hubungan dekat dengan korban. Akibatnya, data resmi mungkin tidak mencerminkan tingkat permasalahan yang sebenarnya.

Indonesia memiliki undang-undang yang melarang kekerasan seksual, seperti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang. Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Namun, penerapan undang-undang ini sering kali menimbulkan tantangan, termasuk kurangnya penegakan hukum yang konsisten dan hukuman yang memadai bagi pelanggar. Yayasan Justitia Avila Veda KAKG

Fakta inilah yang menjadi salah satu alasan Justitia Avila Veda memulai gerakan sosial yang membantu korban kekerasan seksual. Apalagi Justitia sendiri pernah mengalami kekerasan seksual.

Berdasarkan keprihatinan dan latar belakangnya sebagai seorang advokat, ia memulai program KAKG (Kelompok Advokat Keadilan Gender) yang memudahkan korban lainnya untuk mendapatkan bantuan hukum.

Melalui kampanye di media sosial, banyak pengacara yang tertarik untuk melaksanakan program sosial yang dirintisnya. Program sosial ini memiliki program “Bantuan Berbasis Teknologi untuk Korban Kekerasan Seksual”.

Justitia berpendapat penting untuk memastikan adanya dukungan yang memadai bagi korban kekerasan seksual. Hal ini mencakup layanan kesehatan fisik dan mental, bantuan hukum, serta dukungan sosial dan psikologis.

Upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan seksual juga sangat penting. Kampanye publik, pelatihan dan pendidikan dapat membantu mengubah sikap dan perilaku yang mendukung kekerasan seksual.Dukungan untuk Korban

Menurutnya, kekerasan seksual merupakan permasalahan serius yang memerlukan perhatian dan upaya bersama dari pemerintah, lembaga masyarakat sipil, dan individu.

Melibatkan masyarakat dalam mendukung korban, mendorong pelaporan kasus, dan meningkatkan kesadaran akan masalah ini merupakan langkah penting dalam upaya mengatasi kekerasan seksual di Indonesia.

Atas gerakan inspiratifnya, Justitia Avila Veda berhasil meraih SATU Indonesia Award bersama beberapa tokoh inspiratif lainnya pada tahun 2022.

Pada tahun 2022, ONE Indonesia Award diberikan kepada 565 penerima (87 penerima tingkat nasional dan 478 penerima tingkat daerah). Selain itu, terdapat 170 Kampung Berseri Astra dan 1.060 Kampung Astra Sejahtera.

Baca artikel edukasi menarik lainnya di link ini. Penembakan Brutal di Stasiun Kereta Bawah Tanah AS, 1 Tewas dan 5 Luka-luka Satu orang tewas dan lima lainnya luka-luka dalam insiden penembakan di stasiun kereta bawah tanah Bronx, New York, Amerika Serikat, pada Senin malam, 12 Februari 2024 Detik Tegal.co.id 13 Februari 2024

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan