Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Pendeta Gilbert Minta Maaf ke Jusuf Kalla Terkait Video Viral, Begini Klarifikasinya

25
×

Pendeta Gilbert Minta Maaf ke Jusuf Kalla Terkait Video Viral, Begini Klarifikasinya

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Pada Senin, 15 April 2024, Jusuf Kalla didatangi Pendeta Gilbert di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Kunjungan tersebut dalam rangka klarifikasi dan permintaan maaf atas pernyataan Pendeta Gilbert Lumoindong tentang zakat dan doa yang beredar di media sosial belakangan ini.

Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI), Prof. Komaruddin bersama Prof. Imam menjelaskan, dirinya mendapat komentar dari Pendeta Gilbert terkait video yang dikirimkan kepada Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 tersebut. Saya kaget dan kecewa, kata Jusuf Kalla kepada Detik Tegal News, Selasa, 16 April 2024.

Lebih lanjut, pimpinan DMI menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama di Indonesia.

“Ada ayat dalam Islam yang disebut lakum dinukum waliyadin yang artinya ‘agamaku, agamaku, agamamu, agamamu’. Kita harus saling menghargai, tidak saling mencela atau menghina,” ujarnya.

Jusuf Kalla juga menjelaskan pentingnya mediasi dalam proses klarifikasi ini, mengingat bahaya kesalahpahaman agama yang bisa berakibat fatal, seperti yang terjadi di Poso dan Ambon.

Makanya kita harus hadapi dan padamkan sebelum menyebar. Tadi (yang bersangkutan) minta maaf. Islam itu pemaaf, jangan lakukan (kontradiksi) lagi. Itu alasannya, kata Jusuf Kalla.

Pendeta Gilbert kemudian meminta maaf dan menyesali gangguan tersebut serta mengucapkan terima kasih kepada Jusuf Kalla.

Pendeta Gilbert berkata: “Sekali lagi saya mohon maaf atas gangguan ini. Ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan, yang pertama adalah saya tidak bermaksud menyinggung, apalagi menyinggung.”

Pendeta Gilbert kemudian tumbuh di lingkungan Muslim dan diperkenalkan dengan Islam saat bersekolah di Tebet, Jakarta Selatan, menunjukkan ketertarikan dan rasa hormatnya terhadap Islam.

Menurutnya, video yang beredar di Twitter merupakan ibadah internal yang bukan milik publik. Namun karena jemaahnya adalah gereja dan online, maka ceramahnya otomatis ada di YouTube.

“Tapi yang jelas tertulis tentang kebaktian Minggu, jadi bukan untuk masyarakat umum,” imbuhnya.

Menurut Pendeta Gilbert, deskripsi dalam video klip tersebut kurang lengkap sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan penonton.

Dia mengatakan pernyataannya termasuk kritik diri sepenuhnya terhadap umat Kristen. Menurut Gilbert, cara beribadah umat Islam sangat sulit dibandingkan dengan agama Kristen.

“Kenapa setengah mati? Karena susah, sehari lima kali. Sebagai umat Kristiani, seminggu sekali, seminggu sekali, kita juga duduk dan istirahat. Pola dan gerakan (Muslim) ini yang tidak boleh salah ada.” dia berkata.

“Sebetulnya saya ingin sampaikan di akhir bahwa umat Islam awam biasa melipat kaki, jadi mungkin Pak JK yang berusia 82 tahun bisa melipat kakinya seperti ini,” imbuhnya.

Pada saat yang sama, sangat sulit bagi umat Kristiani untuk menekuk kaki, terutama bagi orang lanjut usia. Apalagi, pelayanan rutinnya relatif sepi, hanya duduk-duduk, dan dilakukan minimal seminggu sekali.

“Ngomong-ngomong, ada kepercayaan di kalangan umat Kristiani untuk memberi, katakanlah 10 persen. Saya tahu, ‘Wah, umat Islam lebih mudah 2,5 persen,’ 2,5 persen itu bukan sekedar zakat, bukan infaq, bukan sedekah, bukan wakaf, itu bahkan lebih sulit, katanya.

Oleh karena itu, sekali lagi saya mohon maaf atas gangguan ini. Tapi percayalah, persatuan Indonesia selalu ada di hati saya, dan persatuan selalu ada di hati saya, karena dasar khotbah yang didengar hari itu adalah tentang cinta. tetangga. ” dia menambahkan.

Gilbert pun mengaku memilih Jusuf Kalla sebagai sumber klarifikasi karena merupakan tokoh nasional veteran dan memiliki pengalaman luas di bidang kenegaraan.

J.K. juga termasuk tokoh-tokoh Islam, termasuk jabatan Ketua DMI yang diyakini benar-benar paham Islam.

Jadi yang kedua, beliau bisa dikatakan sebagai orang yang damai karena beliau mampu mendamaikan banyak situasi di negeri ini, ujarnya.

Selain itu, Jusuf Kalla dinilai sebagai sosok yang rendah hati dan menjadi garda terdepan demi perdamaian bangsa Indonesia.

“Pak J.K. itu orang yang siap berbuat apa saja demi bangsa dan negaranya. Pokoknya demi kepentingan negara, apalagi demi perdamaian, dia anggap mudah. ​​Kemarin kita ngobrol, dia minta waktu. Katanya, “Untuk dia, negara, negara dan perdamaian, perdamaian selalu penting, maka hari ini saya meluangkan waktu di sela-sela kesibukan saya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *