Portal Berita Tegal
Beranda Kesehatan Petugas KPPS Pingsan, Bagaimana Cara Menolongnya Kalau Terjadi Henti Napas?

Petugas KPPS Pingsan, Bagaimana Cara Menolongnya Kalau Terjadi Henti Napas?

Detik Tegal, JAKARTA – Pengalaman pemilu (Pemilu) sebelumnya menunjukkan tingginya beban kerja petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Apa yang bisa dilakukan masyarakat awam jika mengetahui petugas KPPS pingsan saat bertugas pada Pemilu 2024?

“Apabila ada anggota (KPPS) yang pingsan, periksa dulu pernapasan dan denyut nadinya,” jelas Andrianto, dokter sekaligus dosen Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Universitas Airlangga Surabaya, dalam keterangan resmi, Selasa (13/2). di Jakarta. 2024).

Jika keduanya terdeteksi, lanjutkan Dr. Andrianto, posisikan orang yang tidak sadarkan diri agar kakinya lebih tinggi dari kepalanya. Biarkan dalam posisi ini selama 10 hingga 15 menit.

Menurut dr Andriant, petugas KPPS yang melintas perlu istirahat dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan terdekat. Bagaimana jika pernapasan berhenti dan denyut nadi tidak terdeteksi?

Dokter Andrianto mengingatkan, ini darurat. Penanganannya juga berbeda karena kondisi ini menandakan orang mengalami serangan jantung. Individu yang terkena dampak harus diperiksa lebih lanjut di fasilitas medis untuk menerima bantuan segera.

Menurut dr Andrianto, rata-rata angka harapan hidup setelah serangan jantung sangat rendah. Oleh karena itu, pengobatan harus segera dilakukan, tidak lebih dari 20 menit.

“Jika tindakan penyelamatan jiwa dapat dilakukan pada serangan jantung dalam waktu 20 menit, maka satu dari lima pasien dapat bertahan hidup,” jelasnya.

Kondisi yang berkaitan dengan kegawatdaruratan jantung, pembuluh darah, dan saraf sangat erat kaitannya dengan kecepatan dan ketepatan pengobatan. Masalahnya, sebagian besar penyakit bawaan, terutama kardiovaskular (menyerang jantung dan pembuluh darah), tidak menunjukkan gejala apa pun.

“Penyakit kardiovaskular itu sendiri banyak yang tidak menunjukkan gejala atau tanpa gejala, sehingga harus diwaspadai,” kata dr Andrianto.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan