Portal Berita Tegal
Beranda Kesehatan Waspada Jika Perempuan Belum Menstruasi di Usia 16 Tahun

Waspada Jika Perempuan Belum Menstruasi di Usia 16 Tahun

Detik Tegal, JAKARTA — Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua, untuk berhati-hati jika anak perempuannya tidak menstruasi pada usia 16 tahun.

“Batas umurnya 16 tahun, kalau umur 16 tahun dan tidak haid pasti ada masalah, perlu periksakan organ reproduksinya,” kata Hasto saat Ngobrol Santai (Diagnosis) BKKBN, Senin (12/2). . ) / 2024) hadir di Jakarta.

Ia menyarankan agar ada program untuk memperkenalkan kesehatan reproduksi pada remaja putri agar mereka bisa berdiskusi satu sama lain dan tidak khawatir jika tidak mengalami masa-masa seperti teman sebayanya.

“Ada anak perempuan yang kurang lebih 13 tahun sudah tidak haid, sekarang rata-rata 12,5 tahun.. Jadi yang belum haid bingung, kenapa belum? Harusnya ada forumnya, kapan ? Menjadi forum?” dia berkata.

Nantinya dalam forum tersebut ia berharap akan ada cerita dan diskusi tentang bagaimana biasanya perempuan mulai menstruasi pada usia 12 tahun dan masih berada di dalam jika tidak menstruasi pada usia 14 tahun. Batas keamanan menunjukkan bahwa hormon tersebut masih bekerja.

“Jadi berapa batasnya kalau belum haid?” 14 tahun.. 14 tahun tanpa haid, masih aman, payudara membesar, bulu ketiak tumbuh, semua itu. “Itu sebagai pedoman normal atau tidak. Kalau gejala ini ada berarti aman karena hormonnya sedang bekerja,” ujarnya.

Hasto menjelaskan, rata-rata masa menstruasi minimal dua hari dan maksimal tujuh hari, dengan volume maksimal 200 cc per hari. “Pedoman selanjutnya adalah haid yang normal itu tidak menggumpal. Kalau ada yang haidnya menggumpal, itu tidak normal, karena kalau normal, darah yang mengalir melalui saluran serviks tidak banyak, ada yang mengencerkan darah. keluar cair. Akan datang,” ujarnya.

“Memang hal kecil, tapi sering menimbulkan masalah karena orang tua tidak mengetahui hal-hal tersebut dan kurang memberikan perhatian, sehingga bila anak mengalaminya, itu dianggap wajar,” ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan agar mata pelajaran tersebut dapat diajarkan sebagai pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah forum sosialisasi. Menurutnya, pendidikan reproduksi bukan hanya soal seks.

“Pendidikan seks tentu saja bukan pendidikan tentang seks, tapi persepsi masyarakat hanya sebatas seks, makanya saya setuju ada istilah lain, misalnya kesehatan reproduksi, yang sebenarnya diajarkan di sekolah,” ujarnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan