Scroll untuk baca artikel
Sains

3 Faktor Cegah Operasi Intelijen Siber, Jangan Terbalik

15
×

3 Faktor Cegah Operasi Intelijen Siber, Jangan Terbalik

Sebarkan artikel ini

detiktegal Tekno – Tren keamanan siber secara umum mendorong perusahaan untuk mengambil prioritas karena mereka harus melindungi diri mereka sendiri saat ini dalam kondisi modernisasi yang pesat, tingginya permintaan akan keterampilan dan sumber daya di tengah ketidakpastian geopolitik dan perkembangan sistem yang terus menerus. Kekuatan dunia maya dan ancaman yang muncul di dalamnya telah mengubah operasi intelijen. Ancaman terhadap keamanan nasional sangat nyata. Intelijen adalah seni menghitung probabilitas atau kemungkinan ancaman yang diprediksi. Mereka tidak segan-segan mengambil musuh dari negara lain. Sedangkan kecerdasan di era transformasi digital modern merupakan kombinasi dari banyak hal, yaitu serangan siber, keamanan digital, pengumpulan sumber terbuka, ilmu data, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi informasi. Indonesia tidak bisa lepas dari ancaman perang siber. Direktur Intelijen Siber Spentera Royke Tobing mengatakan ada tiga hal penting untuk memastikan keamanan siber terbaik dalam sistem di tengah meningkatnya insiden kejahatan siber dalam beberapa tahun terakhir. Ada tiga orang, proses dan teknologi. Dari ketiga aspek penting tersebut, menurut Royke, aspek kemanusiaanlah yang lebih menentukan dibandingkan aspek lainnya. Setiap orang, baik dalam keamanan siber secara individu maupun kelompok, dapat menjadi kesenjangan utama jika tidak memiliki pengetahuan yang baik mengenai permasalahan tersebut. menggunakan teknologi atau metode kejahatan siber. “Bahkan di negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat (AS), yang kebijakan dan teknologinya bagus, kekerasan siber masih terjadi. Karena ada kesenjangan di faktor Rakyat. Dikatakan kita tidak membuka lampiran elektronik. . keamanan cyber. Setelah mempersiapkan faktor manusia sebagai landasan dasar untuk menjamin keamanan siber, maka selanjutnya faktor yang perlu diperhatikan dalam proses Penetration Testing berupa surat (SE) dari Otoritas Jasa Bisnis nomor 29/SEOJK.03/2022 tentang Ketahanan Siber dan Keamanan faktor teknis Bank Umum. Pastikan teknologi yang digunakan dalam program adalah versi terbaru, misalnya pada perangkat seperti ponsel, tablet, laptop, atau komputer pribadi (PC). bahwa produk mereka rentan terhadap kerentanan yang mungkin meningkat seiring bertambahnya pengguna.” Ketiga hal ini harus dipertimbangkan dalam hasilnya. Jangan mengubahnya. Beli alatnya terlebih dahulu lalu pikirkan proses dan orangnya. “Kalau tidak tertib, nanti ada masalah,” kata Royke mengingatkan. Jangan salah langkah. Surplus manusia dan transformasi digital merupakan modal fundamental

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *