Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Ajak Nelayan Jaga Keberlangsungan Laut, Kemendikbudristek Gelar Lomba Perahu Layar Tradisional

15
×

Ajak Nelayan Jaga Keberlangsungan Laut, Kemendikbudristek Gelar Lomba Perahu Layar Tradisional

Sebarkan artikel ini

MANADO – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut menggelar lomba layar pada Minggu, 24 September 2023 di Manado, Sulawesi Utara.

Pak Sugihart, Kepala Balai Konservasi Sulut, mengatakan Manado dipilih sebagai tempat lomba karena sebelumnya merupakan titik yang ditandai dengan Jalur Rempah.

“Secara historis, daerah yang sekarang disebut Sulawesi Utara dulunya merupakan bagian dari jalur rempah-rempah. Tentu saja dahulu alat transportasi tradisional masyarakat Sulawesi adalah perahu layar. “Dengan demikian, lomba perahu layar ini dapat dijadikan sarana edukasi kepada masyarakat modern tentang sejarah dan kejayaan nenek moyang mereka.” kata Sri dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, 25 September 2023.

Mengangkat isu keberlanjutan, perlombaan perahu layar diadakan untuk mendorong para nelayan menggunakan layar sebagai alat penggerak kapal mereka.

Terkait ekspektasi, Shree mengatakan meski sarana penangkapan ikan yang ada saat ini bukan lagi mencari bumbu, namun dengan adanya kompetisi ini diharapkan para nelayan mampu melestarikan ilmu dan teknologi kapal layar tradisional.

“Salah satu caranya adalah dengan bersedia mewariskan ilmu dan teknologi perahu layar tradisional kepada anak cucu serta generasi muda lainnya.” kata pria itu

SRI berharap kompetisi ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan pengetahuan dan teknologi tradisional kelautan khususnya kepada generasi muda dan masyarakat Sulut pada umumnya.

Berbicara pada acara tersebut, Kurator Program Harmoni Budaya Jalur Rempah 2023 Adi Vikaxono mengatakan, kompetisi ini diselenggarakan untuk menciptakan pengetahuan tentang biota laut yang tidak dapat dipisahkan dari Jalur Rempah.

Adi mencontohkan, saat ini banyak nelayan yang beralih ke mesin tempel yang bahan bakarnya berbahan bakar solar, sehingga biaya melaut cukup mahal dan tidak ramah lingkungan.

Adi melanjutkan, dengan adanya acara ini kami ingin mengajak dan mendorong para nelayan untuk menggunakan layar karena lebih hemat dan ramah lingkungan karena layarnya digerakkan oleh angin.

Sebagai informasi, kami sampaikan total ada 140 nelayan dan 70 perahu layar yang mengikuti kompetisi ini. Nelayan tersebut antara lain kelompok nelayan Malalayang, kelompok nelayan Bahu, kelompok nelayan Megama, kelompok nelayan Karangaria, kelompok nelayan Masing, dan kelompok nelayan Mola.

Dalam perlombaan ini pemancing menggunakan dua jenis perahu yaitu perahu kayu dan perahu fibreboard/veneer.

Jalur lomba dimulai dari Pantai Karangaria, menuju Bunaken, kemudian kembali ke Pantai Karangaria sebagai garis finis. Estimasi waktu lomba adalah tiga jam, dimulai pukul 09.00 WITA.

Hadiah akan diberikan kepada enam peserta tercepat di lima kategori, serta hadiah uang sebesar Rp 220.000.000.

Sepekan sebelum lomba layar, juga digelar bincang budaya bertema “Pertemuan Nelayan Perahu Tradisional untuk Kehidupan Laut Lestari” di pesisir Karangaria di Grand Luli Manado, Sulawesi Selatan.

100 nelayan lokal yang terpilih dari 1500 nelayan lokal berpartisipasi dalam percakapan budaya tersebut. Ada dua subtopik yang dibahas.

Pertama, subtema “Mempromosikan Kehidupan Laut yang Berkelanjutan dan Ekonomi Berbasis Pelayaran Ramah Lingkungan dalam Aspek Lingkungan dan Budaya bagi Nelayan Lokal” yang dipimpin oleh Dahri Dahlan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulavarman (UNMUL). Samarinda dan penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu pendidikan, penelitian, seni, sastra, budaya dan lingkungan.

Topik kedua, “Penggunaan Layar: Pengetahuan Adat, Kebijaksanaan, dan Teknologi Tradisional,” dimoderatori oleh Alex John Ulen, antropolog dan peneliti independen di Yayasan Marín CRC Manado, sebuah pusat kajian masyarakat adat dan budaya maritim. .

Diskusi tersebut juga berbagi pengalaman dan kisah sukses para nelayan Sulawesi Utara mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi industri perikanan dan kelautan melalui pendekatan budaya.

Di akhir dialog budaya, dilakukan penyerahan layar perahu secara simbolis kepada perwakilan nelayan. Jenderal Perang Angkatan Laut Belanda mengunjungi Markas Marine Fighter Nest. Apa yang sedang terjadi? Kedatangan Kepala Staf Belanda Laksamana Madya Rene Taas di Markas Korps Marinir TNI AL merupakan salah satu kunjungan yang dilakukan bertepatan dengan kedatangan kapal fregat Belanda di Jakarta detiktegal.co.id 16 Mei 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *