Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Anak Muda dari Riau dan Surabaya Raih Prestasi di Kancah Internasional, Siap Hadiri WWDC 2024!

8
×

Anak Muda dari Riau dan Surabaya Raih Prestasi di Kancah Internasional, Siap Hadiri WWDC 2024!

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Dua pemuda berbakat, Nelson Soratman asal Surabaya dan Shania Siayahan asal Riau, kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Setelah sukses menjuarai Apple Swift Student Challenge yang bergengsi, kini mereka bersiap menghadapi Worldwide Developers Conference (WWDC) tahunan.

Tim Detik Tegal Neilson dan Shania berbagi cerita mengikuti kompetisi bergengsi Apple ini.

Tak hanya itu, keduanya juga mengungkap harapannya ke depan.

Proses Tantangan Pelajar Apple Swift

Swift Student Challenge bukanlah proses yang mudah. Nielsen dan Shania harus mengembangkan aplikasi inovatif dan mengisi formulir pendaftaran.

“Kami kemudian diminta untuk menulis artikel yang menjelaskan ide di balik aplikasi tersebut dan harapan kami terhadap aplikasi tersebut,” kata Shania.

Aplikasi yang dibuat oleh peserta kemudian akan dievaluasi oleh penguji Apple untuk melihat apakah aplikasi tersebut inovatif dan sesuai dengan tema kontes.

Saat pemenang diumumkan, baik Nelson maupun Shania terkejut sekaligus gembira karena usaha mereka akhirnya diakui.

Namun kemenangan bukanlah akhir dari perjalanan keduanya. Shania dan Nelson mengungkapkan harapan dan rencana mereka setelah lulus dari Apple Developer Academy dan memenangkan kompetisi Swift.

“Meski saya tidak berencana mengejar karir sebagai pengembang iOS, saya tetap ingin membuat aplikasi menggunakan produk Apple sebagai hobi,” kata Neilson.

Di saat yang sama, Shania pasti akan bekerja di industri teknologi di masa depan. “Namun, saat ini saya sedang mencoba berbagai keterampilan baru, seperti desain. Karier di bidang teknologi sangat menarik dan saya ingin terus berkembang di bidang ini.

Kini persiapan WWDC mereka terutama terfokus menunggu Apple meluncurkan teknologi baru.

Saat ditanya mengenai ekspektasinya terhadap WWDC 2024, Nelson menjawab dengan antusias: “Kami berharap dapat melihat kejutan baru di masa depan.”

Kegiatan saat ini dan rencana masa depan

Saat ini Shania telah memasuki semester delapan dan sedang menulis tesis masternya, menyelesaikan studinya dengan penuh tekad dan dedikasi. Pada saat yang sama, Nelson bekerja sebagai programmer dan desainer web untuk sebuah perusahaan swasta.

Kesuksesan Neilson dan Shani dalam Swift Student Challenge serta keikutsertaan mereka di WWDC menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mempunyai potensi besar untuk bersaing di dunia internasional.

Kami berharap perjalanan mereka dapat menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk terus berinovasi dan berani menerima tantangan dunia teknologi.

Dengan semangat dan kerja keras, semua orang bisa mencapai impiannya.

Menurut informasi, Neilson Soeratman dan Shania Siahaan berhasil mengharumkan nama Indonesia usai menjuarai ajang bergengsi Apple Swift Student Challenge 2024.

Dalam kompetisi ini, dua anak muda mengungguli para kontestan dalam menciptakan aplikasi inovatif menggunakan bahasa pemrograman Swift.

Shania memulai perjalanan Apple Academy pada tahun 2022 dan terinspirasi untuk mengikuti kompetisi Apple Academy setelah mendengar cerita dari beberapa senior Apple Academy.

“Saya tertarik dengan hal ini karena di Apple Academy, kami tidak hanya belajar coding, tapi kami juga belajar cara membuat aplikasi yang berguna. Kami memahami alasan dan proses di balik pengembangan aplikasi dari perspektif bisnis, desain, dan coding,” Shania kata Liputan6.

Di saat yang sama, Neilson yang baru lulus dari Apple Developer Academy pada tahun 2023 juga berbagi pengalaman serupa dengan Shania.

“Awalnya saya pikir akademi itu hanya tentang coding, tapi ternyata lebih dari itu. Akademi mendorong peserta untuk membuat aplikasi yang memiliki dampak nyata,” ujarnya.

Neilson dan Shania mengatakan kepada tim Detik Tegal bahwa motivasi adalah kunci bagi mereka untuk terus berusaha, meski gagal.

Shania dan Nelson mengalami hal ini saat mengikuti Swift Student Challenge sebelumnya. Shania pertama kali berkompetisi pada tahun 2023 dan merasa usahanya kurang ideal karena waktu persiapan yang singkat.

“Pada tahun 2024, ketika saya memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan ide, saya merasa memiliki peluang lebih besar untuk mengkomunikasikan ide saya,” kata mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Nelson yang juga pertama kali gagal tidak menyerah. “Saya menyukai tantangan, dan dorongan dari dunia akademis membuat saya lebih tertarik untuk berpartisipasi.”

Meski gagal pertama kali, Nelson mengaku belajar banyak dan bertekad mencoba lagi dengan strategi yang lebih baik.

Shania dan Nelson mengemukakan ide untuk aplikasi tersebut berdasarkan masalah di sekitar mereka. Shania yang berasal dari Kepulauan Riau melihat permasalahan pencemaran pantai di wilayahnya.

Oleh karena itu, melalui aplikasi yang dibuatnya, ia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak kebiasaan sehari-hari terhadap lingkungan.

“Saya membuat konsep aplikasi bertema perjalanan waktu di mana pemain harus melakukan perjalanan kembali ke masa lalu untuk mencegah kerusakan lingkungan di masa depan,” jelas Shania.

“Pemain harus menyelesaikan tiga tugas: mengganti bahan berbahaya dengan bahan ramah lingkungan, menjadi pembeli cerdas dengan menghindari produk berbahaya, dan mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelas Shania.

Sementara itu, mengingat cuaca di Surabaya yang sangat panas, Nelson punya ide. Ini berfokus pada perubahan iklim dan konsumsi energi.

“Saya yakin ada langkah-langkah yang dapat diambil setiap orang untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti mengurangi penggunaan listrik dan air sehari-hari,” katanya.

Membangun sebuah aplikasi bukannya tanpa tantangan. Diakui Shania, tantangan terbesarnya adalah mengemas pesan lingkungan dalam aplikasi agar pengguna langsung memahami maksud dan pesan yang ingin disampaikan.

“Saya memilih fitur-fitur yang dapat dengan cepat diterjemahkan ke dalam aplikasi, seperti mengganti material berbahaya dengan material ramah lingkungan. Proses ini memerlukan pemilihan teknologi yang tepat untuk setiap fitur,” kata Shania.

Nielsen juga menghadapi tantangan konseptual dan penelitian. “Mempelajari penggunaan listrik dan air serta dampaknya terhadap emisi karbon membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mengembangkan aplikasinya.”

Diakuinya, tantangan utama adalah menerjemahkan penelitian dan konsep ke dalam aplikasi yang mudah dipahami serta memberikan informasi edukasi kepada pengguna.

Baik Shania maupun Nelson menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang mereka peroleh di akademi untuk mengatasi tantangan dan mengembangkan aplikasi.

“Sebagai lulusan, saya tidak banyak berhubungan dengan mentor dan saya kebanyakan mencari solusi sendiri, meski terkadang saya meminta bantuan teman dan lulusan dalam aspek teknis tertentu,” jelas Shania.

Nelson menambahkan: “Saya belajar banyak tentang pemikiran dan teknologi dari mentor saya selama saya berada di Akademi, yang sangat membantu dalam membangun aplikasi.”

Saran dan harapan bagi peserta selanjutnya

Shania dan Nelson juga memberikan nasihat berharga kepada peserta Swift Student Challenge di masa depan.

“Selalu hadapi tantangan baru dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar, karena ide seringkali datang dari pengalaman langsung,” saran Shania.

Nelson menyarankan untuk tidak terlalu memikirkannya dan mencobanya sekarang. “Diskusi dengan orang lain juga sangat membantu dalam memperkaya ide dan solusi,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *