Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Dokter Jelaskan Soal Anemia Aplastik Seperti yang Dialami Babe Cabita Sebelum Meninggal Dunia

11
×

Dokter Jelaskan Soal Anemia Aplastik Seperti yang Dialami Babe Cabita Sebelum Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Komedian Babe Cabita meninggal dunia sehari menjelang Idul Fitri, tepatnya pada Selasa, 9 April 2024.

Lima puluh tahun sebelum kematiannya, pemilik nama lengkap Priya Prayogha Pratama Bin Irsyad Tanjung itu didiagnosis menderita anemia aplastik.

Terkait anemia aplastik, dokter spesialis penyakit dalam Eka Hospital Permata Hijau, Muhammad Pranandi memberikan penjelasannya.

Anemia, menurutnya, merupakan penyakit yang umum terjadi di dunia. Kondisi ini terjadi akibat penurunan jumlah eritrosit (sel darah merah) yang dapat mempengaruhi distribusi nutrisi dan oksigen ke seluruh sel tubuh. Anemia dapat menimbulkan banyak gejala seperti kelelahan, sakit kepala, pusing, jantung berdebar, dan sesak napas.

Anemia bukanlah penyakit tersendiri, melainkan gabungan gejala yang disebabkan oleh penyebab berbeda. Secara umum anemia disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah merah di sumsum tulang, kehilangan darah akibat pendarahan, dan rusaknya sel darah merah (hemolisis).

Salah satu jenis anemia adalah anemia aplastik. Anemia aplastik terjadi karena kegagalan sumsum tulang memproduksi sel. Seperti sel darah merah atau seluruh komponen darah (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit).

Hal ini terjadi ketika tubuh berhenti memproduksi sel-sel baru dalam jumlah yang cukup, yang secara alami membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi atau pendarahan yang tidak terkontrol, kata Pranandi dalam siaran persnya, Sabtu (13/4/2024).

Pranandi menambahkan, angka anemia aplastik di seluruh dunia bisa bervariasi dan hanya sekitar dua hingga enam kasus per 1 juta orang per tahun.

Angka kejadian antara pria dan wanita adalah 1 berbanding 1. Meskipun anemia aplastik terjadi pada semua kelompok umur, penyakit ini paling sering terjadi pada usia 15 dan 25 tahun dan di atas 60 tahun.

Anemia aplastik diklasifikasikan menjadi tiga kategori, anemia aplastik berat, anemia aplastik berat, dan anemia aplastik. Oleh karena itu, tingkat keparahan gejala tergantung pada tingkat anemia.

Anemia apalitik adalah kondisi langka dan memerlukan pengobatan serius.

Pranandi juga mengatakan, ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan anemia aplastik: penyakit autoimun

Sistem kekebalan tubuh dapat menyerang sel-sel sehat di dalam tubuh, termasuk sel-sel di sumsum tulang. Kontak dengan bahan kimia beracun

Paparan bahan kimia beracun seperti pestisida, bahan kimia industri atau radiasi tingkat tinggi dapat menyebabkan penurunan jumlah sel yang diproduksi di sumsum tulang. Muncul pada virus

Infeksi virus seperti virus Epstein-Barr, demam berdarah, tuberkulosis (militer), HIV, dan virus hepatitis dapat menekan produksi sel di sumsum tulang.

Gejala yang dialami penderita anemia aplastik sangat bervariasi. Beberapa gejala yang paling umum adalah: kulit jantung mengecil.

Anemia aplastik bisa bersifat sementara, namun jika tidak segera diobati, bisa menjadi kronis, dan tentu saja berbahaya.

“Segera konsultasikan ke dokter spesialis untuk memastikan diagnosis dan pengobatan yang benar.”

“Sampai saat ini belum ada cara khusus untuk mencegah anemia aplastik,” lanjut Pranandi. Namun menghindari radiasi atau zat tertentu dapat mengurangi risiko penyakit ini, misalnya logam berat, pestisida, herbisida, dan zat beracun lainnya.

“Dan bila Anda mempunyai masalah autoimun, temuilah dokter spesialis penyakit dalam,” pungkas Pranandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *