Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Faktor Risiko Anak Punya Alergi, Termasuk Ras dan Keturunan

8
×

Faktor Risiko Anak Punya Alergi, Termasuk Ras dan Keturunan

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta Ada banyak faktor penyebab alergi pada anak. Faktor risiko yang dimiliki anak sendiri, seperti keturunan, jenis kelamin, dan usia, merupakan faktor risiko utama yang ditunjukkan oleh kadar imunoglobulin E.

“Pada pasien etnis kulit putih, kadar imunoglobulin E lebih rendah dibandingkan pada pasien etnis kulit hitam. Hal ini menjelaskan kemungkinan adanya faktor ras, kemungkinan alergi juga lebih tinggi,” kata Nirmala Pahalvati, dokter spesialis anak UI Andina. . rumah sakit. .

Faktor lainnya adalah genetika orang tua. Jika kedua orang tuanya memiliki alergi, maka anak mempunyai kemungkinan 60 hingga 90 persen menderita alergi yang sama.

Jika hanya salah satu orang tua yang memiliki alergi, kemungkinan anak terkena alergi akan turun sekitar 30 hingga 50 persen. Namun ada juga 12 persen anak yang tetap memiliki alergi meski orang tuanya tidak memiliki riwayat alergi.

Mengenai faktor ketiga yaitu jenis kelamin, Andina mengatakan anak laki-laki cenderung memiliki antibodi imunoglobulin E lebih banyak dibandingkan anak perempuan, namun keadaannya bisa berbanding terbalik ketika anak memasuki usia remaja.

Bahkan ada yang mungkin menunjukkan reaksi alergi tergantung usia paparannya, kata Andina, mengutip Antara.

Faktor risiko lain yang menyebabkan alergi pada anak adalah faktor lingkungan. Aninda mengatakan, anak yang terpapar asap rokok atau perokok pasif memiliki serum imunoglobulin E yang lebih tinggi sehingga berisiko lebih besar terkena alergi dibandingkan anak yang tidak terpapar asap rokok di rumah.

Berikutnya, polusi asap kendaraan dan industri juga kemungkinan besar akan meningkatkan risiko alergi.

Faktor lainnya adalah pola makan: Anak yang sering makan fast food dan makanan olahan memiliki imunoglobulin E yang lebih tinggi, dibandingkan anak yang sering diberi makanan anti inflamasi seperti buah dan sayur, imunoglobulin E lebih rendah, kata Andina.

Gejala alergi pada anak berupa ruam merah, gatal, dan bengkak di bagian tubuh tertentu. Kemudian bersin atau pilek, radang dan nyeri di sekitar hidung akibat hidung tersumbat, mengi, batuk atau diare bila ada alergi pencernaan.

Gejala alergi juga bisa berupa reaksi serius yang disebut anafilaksis. Pada kondisi ini, kata Andina, pembuluh darah melebar dan bocor sehingga menyebabkan cairan berpindah dari pembuluh darah ke ruang di luar pembuluh darah.

Reaksinya mungkin berupa pembengkakan pada kelopak mata dan penyempitan saluran udara, sehingga harus segera dibawa ke unit gawat darurat.

“Yang paling mengkhawatirkan, imobilisasi pasien yang mengalami reaksi anafilaksis bisa berbahaya karena tekanan darahnya turun dan ini krisis yang bisa berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan cepat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *