Scroll untuk baca artikel
Bisnis

Masa Transisi Energi, BPH Migas Beberkan Peluang Industri Mendatang

9
×

Masa Transisi Energi, BPH Migas Beberkan Peluang Industri Mendatang

Sebarkan artikel ini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkapkan peran sektor minyak dan gas bumi (migas) dalam masa transisi energi dari penggunaan sumber energi fosil ke sumber baru energi. dan energi terbarukan yang lebih bersih (EBT).

Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/5/2024), mengatakan, dalam masa transisi energi, sektor migas masih diperlukan.

“Perkembangan sektor energi di era transisi energi tidak boleh dilihat hanya sekedar peralihan dari energi fosil ke ERN, namun harus memberikan dampak yang besar dan berkelanjutan terhadap kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, peluncuran Enhanced Nationally Ditented Contributions (ENDC) dan Zero Net Emissions (NZE) Roadmap bertujuan untuk melaksanakan transisi menuju energi bersih dan mencapai tujuan pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Transisi energi harus kita lihat dari sudut pandang upaya kita dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan nilai tambah, dari nilai tambah yang rendah menjadi nilai tambah yang tinggi. generasi penerus kita,” kata Saleh dalam webinar bertajuk “Tantangan dan peluang industri migas di tengah transisi energi” di Jakarta, Sabtu (25/05/2024).

Terkait sektor migas, Saleh mengatakan tren penggunaan migas diperkirakan akan tetap tinggi seiring dengan manfaat migas khususnya untuk transportasi dan industri.

“Dalam bauran energi primer saat ini, kecenderungan penggunaan energi fosil masih kuat. Sektor ini masih perlu dikembangkan dan ditingkatkan karena (migas) adalah sumber pendapatan, sumber investasi, bagian dari kehidupan sehari-hari, dan bagian dari karya penciptaan lapangan, tentunya dengan upaya yang berkelanjutan, ”ujarnya.

Perkembangan pemanfaatan migas dalam transisi energi antara lain dilakukan dengan penerapan biodiesel 35 persen (B35) dan bioetanol pada produk Pertamax Green 95 yang sudah mulai dipasarkan ke masyarakat.

“Untuk gas bumi di Indonesia, dengan ditemukannya sumber daya gas yang besar, kita harus bisa memanfaatkannya secara maksimal. Tidak hanya untuk industri kimia, tapi juga untuk sektor transportasi, keluarga, dan sektor produktif lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Profesi Hukum Migas dan Energi Terbarukan (APHMET), Didik Sasono Setyadi mengatakan, peran sektor migas hingga tahun 2050 tidak bisa diabaikan.

“BBM tidak sedang mengalami masa penurunan, namun optimisme perlu diciptakan dari semua pihak agar industri ini tetap berjalan,” ujarnya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso berbicara mengenai pengelolaan energi Indonesia melalui trilema energi yaitu ketahanan energi, keadilan energi, dan keberlanjutan energi.

“Strategi kami adalah meningkatkan produksi dan kapasitas kilang migas, meningkatkan produksi LPG dan penggantian jaringan gas, mengembangkan infrastruktur gas, menerapkan program subsidi yang tepat, serta inisiatif untuk mengurangi emisi gas dari efek rumah kaca,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom Faisal Basri menyoroti tata kelola migas Indonesia. Ia juga menyarankan agar seluruh pengambil kebijakan dapat mengkaji kebijakan migas lebih dalam ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *