Scroll untuk baca artikel
Bisnis

PBB Revisi Prediksi Pertumbuhan Global Jadi 2,7 Persen

6
×

PBB Revisi Prediksi Pertumbuhan Global Jadi 2,7 Persen

Sebarkan artikel ini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,7 persen pada tahun 2024. Pada awal Januari, PBB memperkirakan perekonomian dunia akan tumbuh sebesar 2,4 persen.

Revisi sebesar 0,3 persen tercermin dalam laporan Situasi dan Outlook Ekonomi Dunia yang dirilis Kamis (16/5/2024). Perkiraan tahun 2025 juga direvisi hingga 2,8 persen, naik 0,1 persen dari perkiraan 2,7 persen pada bulan Januari.

“Prospek perekonomian global telah membaik sejak bulan Januari, dengan negara-negara besar menghindari resesi yang mendalam dan memperlambat inflasi tanpa meningkatkan pengangguran,” kata laporan itu.

 Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperingatkan bahwa tingginya suku bunga jangka panjang, masalah keberlanjutan utang, ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, dan risiko iklim terus menghambat pembangunan global.

Tantangan ini mengancam kemajuan pembangunan selama beberapa dekade, terutama di negara-negara kurang berkembang.

“Revisi tersebut terutama mencerminkan pandangan positif di Amerika Serikat, di mana perkiraan terbaru memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,3 persen pada tahun 2024, dan beberapa negara berkembang besar, khususnya Brasil, India, dan Federasi Rusia,” kata laporan tersebut.

Selain itu, prospek Tiongkok juga menunjukkan beberapa perbaikan, dengan pertumbuhan diperkirakan mencapai 4,8 persen pada tahun 2024.

Di sisi lain, prospek Afrika agak memburuk, dengan pertumbuhannya diperkirakan akan melambat menjadi 0,2 persen pada tahun 2024. Demikian pula, PBB memperkirakan bahwa pertumbuhan Turki akan melambat menjadi 4,5 persen pada tahun 2023, dan akan menjadi 3,2 persen pada tahun 2024. .

“Penurunan lira Turki meningkatkan tekanan inflasi, dan akibatnya, otoritas moneter dan kredit mengambil tindakan tegas. “Transaksi berjalan menurun pada awal tahun 2024 karena melemahnya permintaan domestik, yang menyebabkan penurunan impor,” tambah laporan itu. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *