Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Pesan Wakil Ketua MPR RI di Hari Perempuan Internasional agar Kaum Hawa Berdaya

8
×

Pesan Wakil Ketua MPR RI di Hari Perempuan Internasional agar Kaum Hawa Berdaya

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga tidak selalu mudah bagi perempuan pekerja. Perempuan masih menghadapi banyak permasalahan dan permasalahan, termasuk seksisme, diskriminasi dan kurangnya dukungan.

Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, Wakil Presiden MPR RI Dr. Lestari Moerdijat, S.C.

“Orang tua bisa mengurus keluarga, tetap bekerja dan memberikan uang tambahan. “Perempuan mempunyai kekuatan luar biasa yang patut ditinggalkan, dan jika mereka diberi wadah dan saluran, maka mereka bisa dimanfaatkan untuk maksud dan tujuan tertentu.” Lestari pada Debat Publik Hari Perempuan Internasional 2024 di Jakarta, Kamis, 7 Maret 2024.

Perempuan di zaman modern ini telah menunjukkan kemampuannya untuk sukses dalam pekerjaan apapun tanpa harus melepaskan tanggung jawabnya dalam keluarga. Oleh karena itu, penting untuk terus memajukan hak-hak perempuan dan menciptakan lingkungan yang mendorong perempuan mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.

Riri juga menegaskan, komitmen terhadap kelanjutan partisipasi perempuan di segala bidang kehidupan harus dipenuhi. Tidak hanya pada pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dilakukan sebagai pekerjaan perempuan, namun pada seluruh aktivitas, perempuan setidaknya mempunyai peluang untuk berkontribusi di dalamnya.

Partisipasi laki-laki dan perempuan mempunyai aspek kepemimpinan yang baru, karena perempuan dapat menjadi agen inspirasi di seluruh jajaran dewan.

Saat ini, Riri mengatakan, keterkaitan gender dengan perempuan, seperti anggapan bahwa perempuan lebih baik dalam mengurus keluarga dan anak, masih menjadi faktor penting yang berdampak pada pekerjaan perempuan.

“Sampai saat ini kepemimpinan perempuan masih belum lepas dari pemahaman masyarakat,” jelas Rei. Akibatnya, perempuan dibiarkan sendirian dan hak serta kebebasan mereka terhambat oleh banyaknya tanggung jawab yang dibebankan oleh budaya. “

Padahal, menurutnya, sejak dahulu kala, banyak sekali pahlawan perempuan yang memperjuangkan kemerdekaan negara, terutama untuk perempuan lainnya. Pahlawan wanitanya adalah RA Kartini, Hlais Nyak Dien, Laksamana Malahayati dan Dewi Sartika. Semangat dan perjuangan mereka menjadi ciri khasnya.

Riri mengatakan, kini perempuan tidak fokus pada tanggung jawab keluarga, melainkan bekerja di berbagai bidang seperti politik, bisnis, dan perdagangan.

Namun, menurutnya, perjuangan kesetaraan gender masih jauh dari selesai. Perempuan masih menghadapi segala macam diskriminasi dan hambatan dalam mewujudkan potensinya.

Di sisi lain, budaya patriarki masih kuat di masyarakat dan membuat perempuan tetap berada pada posisinya. Perempuan seringkali dihadapkan pada harapan ganda yaitu sukses dalam pekerjaannya dan juga mengurus keluarga dan anak.

Beban ganda ini dapat menimbulkan stres dan kelelahan pada perempuan, yang pada akhirnya berdampak pada karier mereka.

Perjuangan antara menjadi seorang profesional di dunia kerja dan menjadi seorang istri atau ibu masih menjadi tugas berat bagi banyak perempuan. Oleh karena itu, wanita harus berani mengakui bahwa dirinya tidak sempurna.

“Wanita harus berani gagal, harus berani menerima bahwa dirinya tidak sempurna,” kata Rei.

Lestari menambahkan, perempuan harus berani mengakui bahwa dirinya tidak sempurna dan membutuhkan bantuan.

“Akan ada tempat di mana perempuan kita tidak bisa bekerja,” tambahnya. Bantuan sangat dibutuhkan di sini, bisa dari pasangan, keluarga, atau bahkan pihak ketiga seperti helper atau babysitter.

Hal ini bukan karena perempuan gagal, namun karena mereka masih berusaha untuk berhasil dalam kedua hal tersebut dengan tidak menganggap remeh, kata Rei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *