Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Sering Merasa Cemas dan Gelisah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

16
×

Sering Merasa Cemas dan Gelisah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta Kecemasan dan kegelisahan seringkali menjadi pengalaman yang bisa menimpa banyak orang tanpa terkecuali. Dalam kehidupan saat ini yang penuh dengan tekanan dan tuntutan, tidak heran jika banyak dari kita yang sering merasa cemas dan gelisah. Pernahkah Anda bertanya-tanya apa sebenarnya yang menyebabkan perasaan tersebut begitu sering muncul? Mengapa kita cenderung merasa cemas dan gelisah dalam berbagai situasi, meski tanpa alasan yang jelas?

Meskipun kita sering merasa cemas dan gelisah, ada sesuatu yang lebih dalam yang mendorong perasaan tersebut. Meski terkadang bisa disebabkan oleh situasi tertentu, seperti tekanan pekerjaan atau masalah pribadi, namun ada faktor internal yang berkontribusi terhadapnya. Cara kita berpikir dan menghadapi dunia dapat memengaruhi seberapa sering kita mengalami kecemasan dan kegelisahan.

Faktor-faktor yang menyebabkan berulangnya perasaan cemas dan gelisah seringkali bersifat kompleks dan individual. Namun, mengidentifikasi dan memahami akar permasalahan dapat menjadi langkah pertama untuk mengelola perasaan ini dengan lebih baik. Dengan lebih memahami apa yang menyebabkan kecemasan dan kegelisahan, kita dapat menemukan solusi yang tepat dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya dengan lebih efektif.

Detail selengkapnya ada di bawah. Selasa (30 April), Detik Tegal merangkum dari berbagai sumber penyebab seseorang sering merasa cemas dan gelisah.

Kecemasan adalah respons normal terhadap stres. Kecemasan ringan dapat membantu dalam beberapa situasi. Hal ini dapat mengingatkan kita akan bahaya dan membantu kita mempersiapkan diri serta menjadi lebih waspada. Namun, gangguan kecemasan berbeda dari perasaan gugup atau cemas yang normal dan melibatkan rasa takut atau khawatir yang berlebihan.

Gangguan kecemasan adalah gangguan kesehatan mental yang paling umum, mempengaruhi hampir 30 persen orang dewasa pada suatu saat dalam hidup mereka. Namun, gangguan kecemasan dapat diobati dengan berbagai pengobatan psikologis. Perawatan ini membantu kebanyakan orang menjalani kehidupan normal dan produktif.

Kecemasan mengacu pada antisipasi kekhawatiran di masa depan dan lebih terkait dengan ketegangan otot dan perilaku menghindar. Pada saat yang sama, ketakutan merupakan respons emosional terhadap ancaman langsung dan lebih terkait dengan respons melawan-atau-lari, baik bertahan dan melawan, atau meninggalkan situasi untuk menghindari bahaya.

Gangguan kecemasan dapat menyebabkan seseorang berusaha menghindari situasi yang menimbulkan atau memperburuk gejala kecemasan. Hal ini dapat mempengaruhi prestasi kerja, prestasi sekolah, dan hubungan pribadi. Secara umum, agar seseorang dapat didiagnosis menderita gangguan kecemasan, ketakutan atau kecemasannya harus tidak proporsional dengan situasi saat ini atau tidak sesuai dengan usianya dan mengganggu kemampuannya untuk berfungsi secara normal.

Ada beberapa jenis gangguan kecemasan, antara lain gangguan kecemasan umum, gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia, fobia spesifik, agorafobia, gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan akan perpisahan, dan mutisme selektif. Pemahaman yang lebih baik tentang jenis gangguan kecemasan dan karakteristiknya dapat membantu memandu pengobatan yang tepat dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi mereka yang mengalaminya.

Ada berbagai jenis gangguan kecemasan dengan gejala dan efek berbeda. Memahami jenis gangguan kecemasan ini dapat membantu kita lebih memahami pengalaman orang yang mengalaminya dan memberikan dukungan yang tepat. Berikut jenis-jenis gangguan kecemasan: Generalized Anxiety Disorder (GAD)

GAD melibatkan kekhawatiran berlebihan dan terus-menerus yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Kekhawatiran dan ketegangan ini dapat disertai dengan gejala fisik seperti gelisah, lelah, sulit berkonsentrasi, ketegangan otot, atau gangguan tidur. Seringkali, kekhawatiran ini berfokus pada hal-hal duniawi seperti tanggung jawab pekerjaan, kesehatan keluarga, atau hal-hal kecil seperti pekerjaan rumah, perbaikan mobil, atau janji temu. Gangguan panik (gangguan panik)

Gejala utama gangguan panik adalah serangan panik yang berulang, yang merupakan kombinasi kuat dari tekanan fisik dan psikologis. Saat serangan, beberapa gejala seperti detak jantung cepat, berkeringat, gemetar, sesak napas, nyeri dada, pusing, dan rasa tercekik terjadi secara bersamaan. Fobia spesifik (fobia spesifik)

Fobia spesifik adalah ketakutan yang berlebihan dan terus-menerus terhadap objek, situasi, atau aktivitas tertentu yang biasanya tidak berbahaya. Meski penderita menyadari bahwa ketakutannya berlebihan, namun mereka kesulitan mengatasi ketakutan tersebut. Fobia ini dapat menyebabkan kecemasan sehingga beberapa orang berusaha keras untuk menghindari hal-hal yang mereka takuti, seperti berbicara di depan umum, takut terbang, atau takut pada laba-laba. Agorafobia

Agoraphobia adalah ketakutan terhadap situasi di mana pelarian mungkin sulit atau tidak nyaman, atau ketika pertolongan tidak tersedia jika terjadi gejala panik. Ketakutan ini tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan berlanjut terus menerus selama enam bulan atau lebih. Penderita agorafobia menghindari situasi, membutuhkan teman, atau mengatasi ketakutan atau kecemasan yang intens. Gangguan kecemasan sosial

Orang dengan gangguan kecemasan sosial mengalami kecemasan dan ketidaknyamanan yang hebat dalam situasi di mana mereka mungkin merasa malu, terhina, ditolak, atau rendah diri dalam interaksi sosial. Contohnya adalah takut berbicara di depan umum, bertemu orang baru, atau makan/minum di depan umum. Kecemasan ini menimbulkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari dan berlangsung setidaknya selama enam bulan. Gangguan kecemasan akan perpisahan

Orang dengan gangguan kecemasan akan perpisahan takut atau menjadi terlalu cemas setelah berpisah dari orang yang mereka cintai. Ketakutan ini tidak sesuai dengan usia mereka, bersifat konstan dan menimbulkan masalah dalam aktivitas sehari-hari. Gejala fisik sering kali muncul pada masa kanak-kanak, namun bisa menetap hingga dewasa. Mutisme selektif (mutisme selektif)

Anak-anak dengan mutisme selektif tidak berbicara dalam beberapa situasi sosial di mana mereka diharapkan untuk berbicara, seperti di sekolah, meskipun mereka mungkin berbicara dalam situasi lain. Mereka mungkin berbicara di rumah di hadapan anggota keluarga, namun tidak di hadapan orang lain seperti teman dekat atau kakek dan nenek. Kebisuan ini dapat mengganggu komunikasi sosial dan akan menimbulkan konsekuensi yang signifikan terhadap isolasi akademis dan sosial.

Setiap jenis gangguan kecemasan memiliki ciri khasnya masing-masing dan memerlukan pengobatan yang tepat. Saat kami memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang setiap jenis gangguan kecemasan dan gejalanya, kami dapat memberikan dukungan yang lebih efektif kepada mereka yang mengalaminya.

Langkah penting pertama dalam mengobati gangguan kecemasan adalah menemui dokter untuk memastikan Anda tidak memiliki masalah fisik yang menyebabkan gejala Anda. Jika Anda telah didiagnosis menderita gangguan kecemasan, ahli kesehatan mental dapat bekerja sama dengan Anda untuk menemukan pengobatan terbaik.

Namun sayangnya, banyak penderita gangguan kecemasan tidak mencari pertolongan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit yang dapat diobati dengan pengobatan yang efektif.

Meskipun setiap jenis gangguan kecemasan memiliki karakteristik unik, sebagian besar memberikan respons yang baik terhadap dua jenis pengobatan: psikoterapi atau “terapi bicara” dan pengobatan. Perawatan ini dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan. Terapi perilaku kognitif (CBT), sejenis terapi bicara, dapat membantu seseorang mempelajari berbagai cara berpikir, merespons, dan berperilaku untuk membantu mengurangi rasa cemas.

Obat-obatan tidak menyembuhkan gangguan kecemasan, namun dapat meringankan gejala secara signifikan. Obat yang paling umum adalah obat anticemas (yang biasanya hanya diresepkan dalam waktu singkat) dan antidepresan. Beta blocker, yang biasa digunakan untuk penyakit jantung, terkadang digunakan untuk mengobati gejala fisik kecemasan.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan orang untuk membantu mengelola gejala gangguan kecemasan dan meningkatkan pengobatan. Teknik manajemen stres dan meditasi dapat membantu. Kelompok pendukung (baik secara langsung maupun online) dapat memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan strategi mengatasi masalah.

Mempelajari detail gangguan tersebut dan membantu keluarga serta teman lebih memahami penyakitnya juga dapat membantu. Hindari kafein, yang dapat memperburuk gejala, dan bicarakan dengan dokter Anda tentang penggunaan obat-obatan tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *