Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Efek Samping Vaksin AstraZeneca Bikin Geger, Pakar: Kalau Sekarang TTS Ada di Indonesia, Bukan Karena Vaksin COVID

11
×

Efek Samping Vaksin AstraZeneca Bikin Geger, Pakar: Kalau Sekarang TTS Ada di Indonesia, Bukan Karena Vaksin COVID

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Indonesia telah memberikan lebih dari 453 juta dosis vaksin COVID, termasuk 70 juta dosis vaksin AstraZeneca, menjadikannya negara terbesar keempat dalam program vaksinasi COVID-19 di dunia.

Meski surveilans aktif telah selesai, Komisi Nasional Penyidikan dan Penanganan Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi (Komnas KIPI) masih melakukan surveilans pasif.

Hingga saat ini, tidak ada laporan kasus TTC (trombosis dengan sindrom trombositopenia) yang teridentifikasi berdasarkan laporan yang disampaikan.

Baru-baru ini, produsen vaksin AstraZeneca membuat heboh seluruh dunia dengan mengakui bahwa dalam kasus yang sangat jarang terjadi, efek samping vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan TTS.

TDS adalah penyakit langka yang menyebabkan pembekuan darah dan rendahnya jumlah trombosit. Meski jarang, namun bisa menimbulkan gejala serius.

Profesor Hinki Hindra Irawan Satari, Ketua Komnas KIPI, menjelaskan, KIPI umumnya mencatat kejadian tindak lanjut setelah vaksinasi antara empat hingga 42 hari setelah vaksinasi.

Mengutip dari situs Sehat Negeriku pada Jumat 3 Mei 2024, Hinkie mengatakan, “Kalaupun kasus STS sudah terdeteksi di Indonesia, hal ini bukan disebabkan oleh vaksin Covid-19, karena masa kemunculannya sudah lewat. .” di tahun ini.

 

 

Lebih lanjut, Hinkie menjelaskan, gejala trombosis bisa berbeda-beda tergantung tempat terjadinya.

Misalnya, jika penyakitnya berasal dari otak, gejalanya mungkin berupa pusing, mual, dan nyeri tekan pada kaki.

Jumlah trombosit yang rendah dapat menyebabkan pendarahan atau bintik biru di tempat suntikan.

Namun gejala tersebut akan muncul dalam waktu 4-42 hari setelah vaksinasi.

Masyarakat juga diimbau untuk melaporkan Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi (KIPI) kepada Komnas KIPI melalui Puskesmas terdekat.

Puskesmas akan merujuk Anda ke rumah sakit untuk observasi lebih lanjut oleh kelompok kerja KIPI, yang akan melakukan penyelidikan, mengambil riwayat Anda dan membuat rekomendasi berdasarkan bukti yang ada. 

 

Profesor Hinkie menegaskan, keamanan vaksin telah melalui berbagai tahapan uji klinis, termasuk vaksin Covid-19 yang mencakup jutaan orang, dan pemantauan keamanan vaksin akan terus dilakukan setelah izin edar diterima.

Komnas KIPI bersama Kementerian Kesehatan RI dan BPOM melakukan surveilans aktif terhadap gejala atau penyakit yang diduga terkait dengan vaksin COVID-19, termasuk TTS.

Penelitian tersebut dilakukan selama setahun di 14 rumah sakit di 7 provinsi, sejalan dengan rekomendasi WHO.

Surveilans selama lebih dari setahun belum menemukan satu pun kasus STS yang terkait dengan vaksin AstraZeneca. Ringkasnya, Komnas KPI melaporkan belum ada laporan kasus STS terkait vaksin COVID-19 di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *