Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Masih Jadi Perdebatan, Apa Bedanya Tornado dan Angin Puting Beliung?

11
×

Masih Jadi Perdebatan, Apa Bedanya Tornado dan Angin Puting Beliung?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Pada Rabu malam, 21 Februari 2024, wilayah Kabupaten Bandung dan sebagian Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dilanda angin topan kuat yang menyebabkan beberapa bangunan, pohon tumbang, dan lebih dari 20 orang luka-luka. .

Saat badai melanda, beberapa warga memfilmkan kejadian tersebut dan videonya menjadi viral di media sosial.

Menurut penjelasan ahli iklim Erma Yulihastin dari Lembaga Penelitian dan Inovasi Nasional (BRIN), angin kencang tersebut sebenarnya adalah angin topan.

Percayakah Anda badai topan bisa terjadi di Indonesia saat ini? KAMAJAYA telah mengumumkan “peristiwa luar biasa” pada 21 Februari 2023, kata akun Twitter Erma X.

Erma juga mengatakan, durasi angin kencang berlangsung lebih lama dibandingkan angin topan yang biasa terjadi di Indonesia. Jadi apa perbedaan antara badai dan badai? Simak informasinya di bawah ini: Perbedaan Tornado dan Badai

Laman Laporan Badan Meteorologi, Cuaca, dan Geokhoolos (BMKGICS), pada 23 Februari 2024 menjelaskan, di Indonesia, istilah Masuknya Belaung digunakan untuk menyebut angin puting beliung berukuran kecil. Angin puting beliung dan puting beliung terjadi di darat, jika terjadi di perairan seperti lautan atau danau maka fenomena tersebut disebut dengan “lagu air”.

Angin puting beliung, puting beliung, puting beliung, dan siklon merupakan fenomena atmosfer yang terjadi dalam bentuk siklus. Namun perbedaan terbesarnya terletak pada ukuran diameternya.

Siklon, cekungan drainase, dan daerah tangkapan air memiliki diameter yang kecil, biasanya beberapa ratus meter, sedangkan siklon dapat memiliki diameter hingga ratusan kilometer. Kerusakan akibat badai diukur menggunakan skala yang disebut Skala Fujita, mulai dari F0 hingga F5.

Sigit Bayhu Iryanthony dalam studinya “Modul Siaga Bencana Angin Topan Bagi Mahasiswa Pendidikan Geografi UNNES” (2015) mendefinisikan angin puting beliung sebagai peristiwa melingkar angin kencang yang terbentuk dari awan cumulonimbus dengan kecepatan di atas atau sekitar 34,8 knot. . km per jam, dan itu terjadi dalam waktu singkat.

Fenomena ini disebabkan oleh variasi tekanan lokal yang besar di bawah atau di sekitar awan kumulonimbus.

Di sisi lain, kajian Fazrul Rafsanjani Sadarang dan kawan-kawan dalam “Deputi Pulau Jawa” (2018) mengungkapkan bahwa angin topan cenderung terjadi pada masa pancaroba dan musim hujan, sedangkan sebagian besar terjadi pada malam hari. . sampai malam hari antara pukul 12:00 WIB hingga 18:00 WIB.

Kondisi ini sesuai dengan posisi matahari yang memberikan panas paling besar pada periode tersebut. Sinar matahari merupakan sumber energi utama yang digunakan dalam proses konveksi yang membentuk awan konvektif.

Penting untuk diperhatikan bahwa badai di satu tempat tidak terulang di tempat yang sama dalam waktu singkat. Topan dahsyat musnahkan 103 rumah Bencana alam Topan Karimunjawa telah merusak 103 rumah di berbagai kabupaten di Kepulauan Karimun. Dari data yang dihimpun, wilayah detiktegal.co.id pada 14 Mei 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *