Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Memaknai Pelestarian Alam dari Para Perempuan Perajin Batik Tulis Kebon Indah Klaten

12
×

Memaknai Pelestarian Alam dari Para Perempuan Perajin Batik Tulis Kebon Indah Klaten

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Kain Batik Klaten digantung indah di ruang tamu rumah Dalmini (52). Beragam corak batik dengan warna-warna lembut, menampilkan panorama yang menawan.

Di salah satu sudut ruangan terdapat kain batik tulis bermotif parang tebal dan warna biru nila tua yang dihasilkan dari keringat daun tanaman indigofera. Pola parang membuat gerakan zig-zag dinamis, menunjukkan perjuangan dan keberanian.

Ada juga kain batik dengan motif kawung yang merupakan salah satu barang tradisional yang paling digemari. Warna coklat krem ​​​​yang berasal dari biji dan kulit pohon tertentu menciptakan kesan hangat dan alami. Motif Kawung ini memberikan kesan tenang dan harmonis, dengan pola dan keteraturan yang seimbang.

Di sisi lain, terdapat kain dengan flora dan fauna yang rumit, dengan warna hijau dan kuning. Motif-motif ini menunjukkan eratnya hubungan antara batik dan alam, dengan gambar dedaunan, burung, dan bunga yang menari-nari di atas kain.

Masing-masing kain merupakan hasil karya perempuan di Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klat, Jawa Tengah. Batik ini dibuat dengan menggunakan teknik tradisional dan pewarna alami yang diambil dari tumbuhan.

Dalmini adalah salah satu seniman batik tulis di kota Kebon, kecamatan Bayat. Keahlian membatik diwariskan dari setiap generasi perempuan di keluarganya.

“Sejarahnya jaman dulu (perempuan Bayat) bisa membatik. Waktu umur 7 tahun saya sudah membatik,” kata Dalmini saat ditemui di rumah dan tokonya, Rabu (17/4). 2024).

Perempuan-perempuan Kecamatan Bayat sudah lama dikenal sebagai seniman batik tulis. Menurut Aprilia Prastika, dalam artikel Kajian Batik Tradisional Klaten Bayat dengan Pendekatan Estetika pada Tekstur: Jurnal Seni dan Budaya ISI Surakarta, sudah lama disebut-sebut turut membantu terciptanya karya batik di Keraton Bayat. Surakarta

Saat itu, banyak warga Bayat, terutama perempuan, yang sebagian besar bekerja di keraton Surakarta. Beberapa pekerjaan dilakukan di rumah. Di antara ratusan batik yang dibawa pulang, ada pula yang merupakan hasil karya warga sekitar. Proses pembuatan batik Bayat menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini akhirnya membuat warga Kecamatan Bayat, khususnya kaum perempuan, mengadopsi batik tulis. Hampir dua pertiga perempuan Bayat menjadi pekerja batik dan pengelola batik.

Pasca gempa tahun 2006, produksi batik di Bayat terhenti. Saat itu, di Kota Kebon, Kecamatan Bayat, sebagian besar perempuan bekerja sebagai buruh batik untuk kolektor di Jogja dan Solo. Pasca gempa, permintaan terhenti.

Sebelum tahun 2006, batik sebagian besar dibuat oleh warga Kebon. Namun batik diambil dari kolektor yang ada di Jogja, Solo dan sekitarnya. “Di satu sisi kami adalah pekerja yang hanya membuat batik putih, memotong, menyelesaikan, dan menyerahkannya kepada pengepul,” kata Dalmini.

Pada tahun 2009, International Organization for Migration (IOM) yang didukung oleh Java Reconstruction Fund (JRF) mendukung perempuan Desa Kebon untuk secara mandiri memproduksi batik tulis. Melalui kedua LSM tersebut, 169 perempuan dilatih mengenai penggunaan bahan-bahan alami, seperti pewarna, teknik produksi, dan pengelolaan keuangan.

Melalui pelatihan ini, para perempuan Desa Kebon dapat meningkatkan nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun. Mereka bukan lagi pekerja, tapi bisa memproduksi dan menjual batik sendiri.

Sebelum tahun 2006, kami hanya diberi harga Rs 10.000 untuk biaya pemakaiannya. “Padahal pengepul bisa menjualnya hingga Rp lima ribu,” kata Dalmini.

Dalmini membuka usaha kecil-kecilan bernama Batik Kebon Indah. Usaha ini menghidupi para perajin perempuan di Kota Kebon yang ahli dalam menulis tangan. Jika dulu penghasilan membatik hanya Rp 10.000, kini para ibu-ibu tersebut bisa menjual batiknya dengan harga antara Rp 200 ribu hingga Rp 750 ribu.

Saat ini, ada sekitar 180 perempuan di Batik Kebon Indah dan mereka akhirnya membentuk tim seniman batik tulis Bayat. 75 buah diantaranya masih membuahkan hasil hingga saat ini dengan membatik.

Salah satu keistimewaan batik Desa Kebon adalah warnanya menggunakan pewarna alami. Bahan yang digunakan berasal dari alam seperti kulit pohon, akar pohon, buah dan daun. Tanaman yang digunakan biasanya tingi, jambal, mahoni, nila, jolawe, teger, daun jati bahkan daun mangga.

Jika dipadukan dengan bahan pemblokir, bahan alami tersebut mampu memberikan warna cemerlang. Daun nila misalnya jika dicap dengan tawas akan menghasilkan warna biru lembut. Kulit kayu mahoni jika diberi kapur akan berubah warna menjadi kuning kecokelatan.

Dibutuhkan waktu sebulan untuk menghasilkan sepotong kain batik dengan pewarna alami. Pasalnya, proses pewarnaannya bisa memakan waktu hingga 25 kali celup.

Penggunaan warna natural bukan tanpa alasan. Menurut Dalmini, bahan-bahan alami seringkali ramah lingkungan dan dapat membantu melestarikannya.

“Salah satu alasan penggunaan warna alami adalah karena kita tidak peduli terhadap lingkungan. Kedua, secara tidak langsung kita juga adalah penjaga lingkungan kita,” imbuhnya.

Dalmini menjelaskan, limbah pewarna alami tidak akan membahayakan lingkungan. Sisa daun dan kulit kayu, misalnya, bisa dijadikan pupuk. Bahkan air limbah yang diberi pewarna tidak akan merusak sistem air dan tanah.

Konsep ramah lingkungan dalam pembuatan batik juga menjadi gambaran kedekatan perempuan dengan alam. Berawal dari silaturahmi tersebut, pada akhirnya perempuan berperan penting dalam menjaga kelestarian alam.

Peran batik sebagai upaya pelestarian kodrat perempuan ditemukan dalam kajian Jurnal Badra Sugarak Memetika: Jurnal Kajian Budaya 2023 Gerakan Ekofeminis Batik Tulis sebagai Metode Upaya Pelestarian Seni Tradisional dan Lingkungan Kota. di Surakarta Dalam penelitiannya, Badra menyampaikan bahwa penggunaan pewarna alami dalam proses pewarnaan batik merupakan gerakan eko-feminis.

Gerakan ekofeminisme batik juga merupakan salah satu bentuk etika lingkungan, dimana adanya kesetaraan hubungan dengan alam. Batik alam buatan tangan menggunakan pewarna alami. Sebagai keseimbangan, pembatik juga harus memperhatikan lingkungan dengan menjaga lingkungan dari pencemaran bahan kimia.

Tak hanya penggunaan pewarna alami, kedekatan perempuan Desa Kebon dengan alam tercermin dari tema dan corak yang mereka gambar. Sejak berkolaborasi dengan Batik Kebon Indah, para seniman batik diajak berkreasi menciptakan motif dan corak sendiri. Salah satu inspirasinya datang dari lingkungan alam.

“Ibu-ibu menggambar apa yang mereka inginkan. Terkadang kami memetik daun dari kebun, memetiknya lalu membatik. Ada yang lihat ke sawah, aduh ada burung, ayo buat pola batik. Jadi kita menggambar tanpa berpikir panjang. “Satu-satunya hal yang kami lihat adalah apa yang kami lakukan,” kata Dalmini.

Beragamnya corak dan motif batik inilah yang menjadikan batik Kebon Indah semakin unik. Motif yang umum ditemukan dapat berupa daun, bunga, pohon, burung dan makhluk hidup lainnya.

Meski terus berinovasi dan berinovasi, namun para perajin batik Desa Kebon tidak meninggalkan tema batik lama yang telah diciptakan secara turun temurun. Terdapat motif klasik seperti Truntum Gurdo, Kawung, Parang, Wahyu Tumurun, Sido Mukti dan Baboon Angrem. Motif klat yang umum, Sindu Melati, juga terdapat pada Batik Kebon Indah. Motif klasik ini juga menjadi salah satu batik terlaris yang diinginkan pelanggan.

Saat mendirikan Batik Kebon Indah, Dalmini mempunyai misi untuk memberdayakan perempuan di desanya. Dengan memproduksi batik, perempuan di desanya bisa berdaya di rumah.

“Di satu sisi, kehadiran kelompok ini juga mendorong perempuan untuk mandiri. Dia tidak dimanjakan oleh suaminya. Jadi selain mengurus keluarga, bisa membantu perekonomian,” tambah Dalmini.

Kini sebagian besar pekerjaan perempuan di Kebon adalah membatik. Beberapa juga menjadi petani.

Dalam satu bulan, penjualan Batik Kebon Indah bisa mencapai Rp 35 juta. Pendapatan ini terutama diperoleh dari penjualan kain dan berbagai produk turunannya seperti topi, dompet dan aksesoris lainnya.

Sejauh ini penjualan batik sudah menjangkau beberapa kota besar di Indonesia seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Hanya sedikit wisatawan asing yang tertarik dengan batik di Kebon Indah karena corak dan warnanya yang unik. Pada tahun 2018, Dalmini juga diundang menjadi Tokoh Batik Amerika Serikat di San Francisco.

Perkembangan Batik Kebon Indah mengharuskan Dalmini menyiapkan dana yang cukup. Salah satu upaya Dalmini adalah dengan mengajukan pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada tahun 2015, Dalmini mengajukan Kredit Umum Perdesaan (Kupedes) senilai Rp 50 juta. Dia menggunakan uang itu untuk mengembangkan bisnisnya.

Tak hanya Dalminin, perempuan perajin batik asal Desa Kebon juga banyak yang mengajukan permohonan pendanaan BRI. Akses masuk yang mudah dan bunga yang rendah dapat membantu usaha kecil menjalankan usahanya.

“Kalau permintaannya banyak, kami butuh modal karena kami sudah punya BRI. Tinggal WA saja untuk ordernya, nanti orderannya ada disini. “Tindak lanjuti ke anggota tim, jika ada keluhan soal permodalan tinggal menghubungi BRI dan akan diselesaikan,” kata Dalmini.

Selain permodalan, pada tahun 2022 Batik Kebon Indah juga mendapat penyaluran Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli berupa alat dan bahan penjualan batik. BRI Peduli merupakan Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang diselenggarakan oleh BRI. Penyelenggaraan program TJSL BRI fokus pada bidang pendidikan, lingkungan hidup, dan pengembangan UKM.

Para seniman batik Batik Kebon Indah juga masuk dalam program Klaster My Life. Program My Life Cluster merupakan inisiatif pemberdayaan yang mendukung kelompok usaha melalui pengembangan organisasi dan kolaborasi untuk meningkatkan kualitas usaha dan meningkatkan akses pasar. Dari 23.243 kelompok usaha binaan BRI, sebanyak 1.897 kelompok usaha di antaranya mendapatkan pelatihan dan dukungan berupa produksi dan peralatan.

Dalam program ini, Dalmini dan kawan-kawan mendapat pelatihan rutin untuk membekali mereka dengan ilmu-ilmu seperti pemasaran digital dan manajemen keuangan. Hal ini memungkinkan para ibu-ibu Kebon akhirnya bisa menjual produknya.

“Kami anggota yang seharusnya bisa menjual semuanya di sini. “Selain ditempatkan di sini, mereka juga menjualnya masing-masing,” tambah Dalmini.

Dari upaya yang dilakukan, Dalmini berharap batik tersebut tetap lestari seiring berjalannya waktu. Selain itu, melalui batik, masyarakat dapat menjadi bagian dalam melestarikan alam dan budaya.

Saya harap batik tidak berhenti sampai disitu saja. Harapannya akan terjalin dan generasi muda juga akan menyukainya, ujarnya.

Dalmini mengharapkan penyedia jasa keuangan seperti BRI memberikan dukungan tidak hanya dari segi permodalan, tetapi juga pemasaran secara umum.

Harapan BRI ya, karena mereka sudah membantu kita dari segi modal dan peralatan. Kalau bisa jangan sampai disitu saja. Ada kelanjutan ekspornya, kata Dalmini.

Dalam pemberdayaan UKM, BRI juga mendorong pengembangan kelompok perempuan. BRI melalui Program BRI Peduli memberikan dukungan kepada kelompok usaha perempuan.

Pengajuan modal dengan bunga rendah dan proses sederhana membantu pelaku usaha mengembangkan usahanya. Upaya ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Direktur Bisnis Kecil BRI Supari mengatakan UKM khususnya Segmen Mikro dan Ultra mempunyai peran penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian. Hal ini sejalan dengan konsep Indonesia Emas.

“Tujuan besar tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan pemberdayaan dan kekuatan bonus demografi, meningkatkan jumlah penduduk perempuan, meningkatkan pangsa pelaku usaha Mikro dan Ultra Mikro serta mendukung pertumbuhan ekonomi digital khususnya di sektor Mikro dan Ultra. Sektor usaha mikro,” kata Supari dalam keterangannya. menurut hukum

Supari mengatakan melalui program “Klaster Hidupku”, BRI berkomitmen untuk mendukung dan memberikan dukungan kepada pengusaha perempuan. Dukungan tersebut tidak hanya berupa pemberian modal usaha, namun juga pelatihan usaha dan berbagai program pemberdayaan lainnya.

“Kami juga mendorong lahirnya kelompok usaha perempuan, didukung dengan peralatan atau infrastruktur usaha. “Semoga bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *