Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Ragam Tradisi Masyarakat Saat Lebaran Ketupat, Dirayakan Seminggu Setelah Idul Fitri

19
×

Ragam Tradisi Masyarakat Saat Lebaran Ketupat, Dirayakan Seminggu Setelah Idul Fitri

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta Ketupat Idul Fitri dirayakan umat Islam Indonesia seminggu setelah Idul Fitri atau 8 Syawal. Namun ada sebagian umat Islam yang merayakan Idul Fitri Ketupat pada malam 7 Syawal.

Ketupat Idul Fitri biasa disebut dengan “libur kecil” atau “kelaparan kecil” setelah 6 hari puasa Syawal atau puasa kecil dibandingkan dengan Idul Fitri yang didahului dengan 1 bulan puasa Ramadhan.

Kisah Ketupat Idul Fitri erat kaitannya dengan Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa percaya bahwa Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat.

Pakar budaya Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, tradisi kupatan bermula pada zaman Wali Song, menggunakan tradisi slametan yang berkembang di kalangan masyarakat nusantara.

Tradisi ini kemudian dijadikan sarana mengenalkan ajaran Islam tentang cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan tetap silaturahmi saat Idul Fitri. Tradisi perayaan Idul Fitri Ketupat di berbagai daerah

Perayaan Idul Fitri Ketupat diselenggarakan berbeda-beda di setiap daerah. Misalnya saja di Pati, Jawa Tengah, masyarakat setempat meyakini tradisi ketupat Idul Fitri diturunkan secara turun temurun untuk mendoakan bayi yang meninggal.

“Itu merupakan adat dan tradisi setiap tanggal 8 Syawal. “Selain diperingati setelah puasa Syawal, ini juga merupakan hari raya bayi,” kata Sutarsi.

Untuk Ketupat Idul Fitri tahun ini, Sutarsi membuat 50 buah ketupat, lepet, dan 10 lontong untuk disantap sekeluarga.

Surinah, salah satu warga Pati yang ikut merayakan tradisi Ketupat Lebaran, membuat 20 ketupat dan 20 lepet yang ia bawa ke musala untuk didoakan dan dirayakan bersama warga yang berkumpul.

Di Jombang, Jawa Timur, Ketupat Idul Fitri dirayakan di musala atau masjid setelah salat subuh dengan cara memanjatkan doa kepada makhluk halus, saling bertukar berkah, dan makan bersama.

Sehari menjelang Ketupat Idul Fitri, warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang diminta menuliskan nama makhluk halus setiap jamaah di musala. Kemudian pada hari Lebaran Ketupat, masyarakat membawa berkah yaitu ketupat atau lontong kuah lodeh yang dibawa ke musala.

“Mari kita panjatkan doa dan semangat terlebih dahulu untuk seluruh arwah yang berkumpul di jamaah Mushala Al-Mubarok,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (17/4/2024).

Masyarakat di Gorontalo, Gorontalo juga merayakan Idul Fitri Ketupat. Mereka yang berkumpul pergi ke masjid membawa air dan rempah-rempah.

Rempah-rempah dan air yang dibacakan dalam doa diyakini membawa keberkahan dan dapat melindungi manusia dari penyakit jika rempah-rempah dan air tersebut masuk ke dalam tubuh, baik melalui makanan, minuman, maupun air untuk mandi, seperti dikutip Antara.

Selain salat dengan bumbu dan air, terdapat bejana besar berisi air, uang logam, dan bunga puring yang disediakan untuk seluruh jamaah di masjid untuk mencuci muka, tangan, dan kaki. juga dipercaya mempunyai keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *