Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Saat Sampah Plastik dan Sumpit Diolah Jadi Material Baru untuk Percantik Gerai Restoran Cepat Saji

10
×

Saat Sampah Plastik dan Sumpit Diolah Jadi Material Baru untuk Percantik Gerai Restoran Cepat Saji

Sebarkan artikel ini

Detik Tegal, Jakarta – Bukti lain bahwa pemilahan sampah bisa lebih bermanfaat. Hokben, sebuah restoran cepat saji ala Jepang, membuka gerai baru di kawasan Kota Sedayu Jakarta Timur dengan konsep menggunakan bahan daur ulang.

Jika tidak diberi tahu, pengunjung yang datang tidak akan menyadari bahwa banyak sudut dan celah yang dipercantik dengan palu bekas dan limbah mika. List yang berfungsi untuk membagi ruangan sekaligus mempermanis ruangan ini terbuat dari kemasan plastik bekas.

“Total ada 10 sampah plastik bekas kemasan makanan HokBen yang bisa dicantumkan,” kata Sugiri Willim, Direktur Pemasaran HokBen, dalam jumpa pers di Jakarta akhir pekan lalu berdasarkan keterangan tertulis kepada Tim Lifestyle Detik Tegal, Minggu, 7 April. 2024.

Restoran Jepang lokal juga berkolaborasi dengan start-up Boolet. Bedanya, mereka fokus mengolah sumpit bekas menjadi meja, dagangan, bahkan pajangan dinding. Kerja sama dengan perusahaan ini telah berlangsung selama enam tahun.

“Setiap tahunnya dihasilkan limbah stik drum sebanyak enam ton, mereka (Boolet) yang menanganinya,” lanjut Sugiri. Ini dikumpulkan hanya dari sekitar Jabodetabek.

Sugiri mengatakan toko terbarunya di Sedayu bukanlah yang pertama menggunakan bahan daur ulang. Total ada 45 toko di Hokben yang menggunakan eco watch list. Untuk saat ini cabang baru memiliki konsep tersendiri dengan kapasitas 118 kursi dalam ruang yang nyaman, rapi dan bersih.

Apa yang terjadi dengan sampah organik? Menurutnya, petugas kebersihan menangani sampah organik yang didominasi sampah makanan pelanggan. Pihaknya bertugas memilah sampah berdasarkan jenisnya agar bisa diolah lebih lanjut dan tidak terbuang percuma.

“Kalau dilihat, tempat sampah kita sudah dipilah. Ada tiga jenis tempat sampah yang kita harapkan konsumen juga berperan aktif dalam memilah sampahnya,” ujarnya.

Sampah makanan sejauh ini merupakan penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menegaskan, dengan kontribusi sampah makanan sebesar 41,7 persen dari total sampah yang dihasilkan atau sekitar 30 juta ton per tahun, Indonesia menjadi salah satu negara dengan produksi sampah terbesar. produksi limbah makanan. Dunia.

Jumlahnya bahkan meningkat pada bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu untuk mengendalikan nafsu. “Pada bulan puasa, sampah makanan meningkat 10 hingga 20 persen,” ujarnya, Jumat, 22 Maret 2024.

Menurut Novrizal, hal tersebut disebabkan oleh kebiasaan belanja makanan masyarakat Indonesia. Sebelum berbuka, masyarakat cenderung menimbun makanan lebih banyak. Dari kebiasaan hanya makan secukupnya hingga membeli lebih dari kebutuhan karena mata lapar. Belum lagi banyaknya penjual makanan dan minuman seadanya yang hanya muncul saat Ramadhan.

“Saat berbuka, siapkan takjil, kolak, minuman dan sebagainya, bahkan makanan berat. Misalnya sepuluh kali makan bisa, tapi kalau sudah kenyang di makan ketiga… Terakhir, sisa tujuh kali makan itu dibuang.” agar kamu tidak makan, katanya.

Padahal, langkah pertama untuk mengatasi sampah makanan adalah dengan tidak meninggalkan makanan di piring. Oleh karena itu, salah satu gerakan yang digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah makanan siap saji atau makan tanpa sisa. “Lalu kalau di rumah ada sisa makanan, jadikan kompos,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, pengomposan penting dilakukan setiap rumah tangga untuk mengatasi sebagian besar permasalahan sampah di berbagai tempat di Indonesia. “Kalau poin kelima ini (pengomposan) bisa dilakukan secara konsisten maka 90-95 persen permasalahan sampah bisa diselesaikan sendiri. Lima persen bisa meminta Dinas Persampahan Kota untuk menyelesaikannya,” kata Novrizal.

Selain sampah organik, sampah plastik juga menjadi masalah utama pengelolaan sampah di tanah air. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, produksi sampah Indonesia akan mencapai lebih dari 31 juta ton pada tahun 2022.

Sampah plastik menyumbang sekitar 18,5 persen dari total sampah. Meski jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan sampah organik, sampah plastik merupakan masalah besar karena tidak dapat didaur ulang secara alami sehingga menyebabkan pencemaran tanah, sungai, dan lautan.

Sejauh ini upaya pemulihan sampah plastik belum optimal, karena banyak sampah plastik yang bercampur dengan sampah organik. Mengutip Japan Today pada Kamis 5 Oktober 2023, PBB bahkan menyerukan pemikiran ulang menyeluruh terhadap cara masyarakat menggunakan plastik.

“Ada banyak jalan menuju solusi. Namun saya pikir semua orang menyadari bahwa status quo bukanlah suatu pilihan,” Inger Andersen, direktur Program Lingkungan PBB, mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara.

Menurutnya, jumlah penggunaan plastik semakin meningkat setiap tahunnya dan daur ulang tidak bisa dijadikan solusi permasalahan tersebut. Produksi plastik tahunan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir, mencapai 460 juta ton. Jumlah ini bisa meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060 jika tidak ada perubahan. Namun yang didapat hanya sekitar sembilan persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *